Jumat, 30 Januari 2026 | 00:56 WIB
27.9 C
Blitar

Bangkit setelah Vakum Panjang, BMS Suarakan Kritik Keras dengan Tawa Ringan melalui ‘Skolah Skandal’

-- advertisement --spot_img
-- advertisement --spot_img

BlitarRaya.com – Bangkit setelah vakum panjang, Bengkel Muda Surabaya (BMS) menampilkan Skolah Skandal yang keras dan satir tentang transaksi kekuasaan serta uang yang menjadi hakim tertinggi di balik jeruji keadilan.

BMS kembali mengukir jejak panggung di usianya yang ke-53 tahun dengan sebuah deklarasi artistik yang kuat: pementasan lakon Skolah Skandal karya Akhudiat. 

Momen yang berlangsung di Balai Pemuda Surabaya pada 10–11 Desember 2025 lalu ini menjadi istimewa bukan semata karena perayaan hari ulang tahun (HUT) BMS Movement bertema “Surabaya Ayo Bicara”, tetapi juga karena keberaniannya untuk bangkit kembali. 

Meskipun Surabaya diguyur hujan deras, sekitar 250 penonton memadati gedung pertunjukan, setia menunggu hingga tirai dibuka pukul 21.00 WIB. Suasana khidmat dan tawa ringan yang sesekali pecah saat adegan konyol mengemuka, menjadi isyarat bahwa teater masih memiliki tempat penting dalam denyut kebudayaan kota ini.

Penanda Kebangkitan

Kembalinya BMS ke panggung merupakan respons atas penantian panjang publik seni Surabaya. Produksi terakhir BMS (Perempuan Perkasa dan Skak Mat) sudah terjadi pada Desember 2017. Setelahnya, BMS mengalami masa vakum yang cukup menantang.

Ndindy Indiyati, Ketua Program BMS, mengakui kondisi ini, sekaligus menyoroti sulitnya mencari generasi penerus. “BMS sudah lama dinanti. Tapi mencari generasi penerus itu sangat sulit. Anak-anak muda sekarang banyak yang tidak mau berproses. Maunya instan,” ujarnya.

Maka, pementasan Skolah Skandal —naskah yang pertama kali dipentaskan pada 2011 dan jarang disentuh sejak itu— dipilih sebagai penanda kebangkitan.

Penjara sebagai Ruang Transaksi

Di bawah arahan sutradara Heroe Budiarto, naskah ini menjadi kendaraan yang sempurna untuk menyuarakan kritik sosial. Ia menyebut Skolah Skandal mengandung berlapis-lapis makna dan sangat dekat dengan realitas hari ini.

Lakon ini membawa penonton masuk ke dunia penjara, yang bukan diartikan sebagai tempat hukuman semata, melainkan sebagai ruang transaksi kehidupan. 

Naskah ini dengan lugas menelanjangi bagaimana kekuasaan berganti, harapan bisa dibeli, dan keadilan dapat dilelang —semuanya digerakkan oleh uang, benda yang paling akrab dalam kehidupan manusia.

Meski kritik yang disampaikan sangat keras dan menusuk institusi hukum, tetapi penyajiannya dibuat begitu ringan, hampir cair. Kostum modern warna-warni menambah kedinamisan visual. 

Sedangkan sentuhan gerak tari dan lagu-lagu satire membuat kritik yang disampaikan tidak terasa menggurui. Penonton justru diajak masuk ke kenyataan yang familiar, kenyataan di mana masyarakat sering berharap, sering kecewa, dan sering memilih diam. 

Naskah ini menyodorkan cermin besar, menunjukkan betapa seringnya kita mengabaikan realitas yang terlalu dekat.

Kolaborasi untuk Menjaga Api Estetik

Pementasan ini juga menjadi upaya nyata BMS mengatasi masalah regenerasi. Heroe Budiarto menerapkan strategi kolaborasi generasi: memadukan pemain senior sebagai jangkar kekuatan dramaturgi, dengan energi segar dari para pemain baru.

Pemain senior seperti Ndindy Indiyati (Wak Girah), Saiful Hadjar (Wakde Balong), dan Ipong (Kepala Polisi) membimbing para pendatang baru, seperti Dela, Renita, Asti, Mauren, Bilqis, Rinov, dan Zain.

BMS memadukan pemain senior sebagai jangkar kekuatan dramaturgi dengan para pemain baru yang membawa energi segar. | Foto: Dok. BMS
BMS memadukan pemain senior sebagai jangkar kekuatan dramaturgi dengan para pemain baru yang membawa energi segar. | Foto: Dok. BMS

Kombinasi ini bukan sekadar strategi artistik, tetapi juga bentuk pendidikan teater yang melekat pada tradisi BMS: belajar bersama, tumbuh bersama, menjaga api estetik agar tetap hidup lintas generasi.

Meski Heroe mengakui masih banyak kekurangan, ia merasa lega melihat konsistensi dan disiplin yang ditunjukkan anak-anak muda BMS. 

Optimisme juga datang dari anggota senior BMS, Jill Kalaran, yang menegaskan komitmen BMS untuk kembali memproduksi teater minimal satu kali setiap tahun.

BMS adalah sanggar teater tua yang berakar kuat di Surabaya. Dengan kebangkitannya melalui Skolah Skandal, BMS menegaskan akan tetap menjadi rumah sekaligus mercusuar bagi pekerja seni, memaksa kota ini untuk terus bicara dan merenung. (mr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Jangan Lewatkan

-- advertisement --spot_img
- Advertisement -spot_img